SYAUQY VII
(Menggapai Indahnya Cinta Bersama Al-Qur’an)
(Menggapai Indahnya Cinta Bersama Al-Qur’an)
PART
3
Senja
di kota Malang, pancaran mentari jingga menyepur seluruh permukaan di kota ini,
di pasar Merjosari yang terletak tak jauh dari kampus UIN Maulana Malik Ibrahim
ku lihat para pedagang mulai menutup tempat dagangannya. Tampak beberapa dari
mereka menutup dagangannya dengan wajah yang gembira karena mungkin mendapatkan
banyak keuntungan dari hasil dagangannya dan ada pula yang menutup warung dagangannya
dengan wajah yang kurang senang.
Bapak
yang berkumis tebal itu tampak kesal saat menutup warung dagangannya, beliau
adalah salah satu penjual buah-buahan yang ada di pasar itu. jika buah-buahan
dari pedagang yang lainnya sudah banyak yang habis tapi saat kulihat tumpukan
buah-buhan bapak berkumis itu tampak masih rapih, hanya terlihat gundukan jeruk
dan apel yang sudah tidak rapih lagi, dan kotak buah manga yang renggang-renggang
yang menandakan beberapa dari isinya sudah ada yang membeli. ku arahkan mataku
ke penual baju, tampak baju-baju yang lucu untuk anak-anak dan berbagai jenis
baju untuk usia remaja hingga dewasa dengan berbagai gambar, bentuk dan warna.
Aku sempat bingung dengan baju anak-anak berwarna merah yang bertuliskan “Kera
ngalam”. Pikirku saat itu berkata sangat tak pantas sekali baju anak-anak
dengan tulisan seperti itu, tapi setelah bertanya kepada teman yang asli orang
malang ternyata ya begitulah tradisi malang, tapi bukan mengajari anak untuk
berkata kotor tapi budaya malang yaitu membalikkan kata, seperti “ngalam” itu
berarti “Malang” sehingga baju yang bertuliskan “Kera ngalam” tadi sebenarnya
maksudnya “Arek Malang”. Arek berarti anak atau orang. hampir semua
teman-temanku yang asli malang melakukan hal itu seperti saat ditanya apa kabar
mereka menjawab “tahes” atau saat ku katakan pada mereka aku tunggu di kampus
yah, temanku jawab “oyi”. Ya inilah Indonesia dengan berbagai keunikannya,
berbagai bahasa, adat dan budaya. Aku
bangga menjadi anak Indonesia. “Tuhan, Negeri ini indah, bantu kami menjaganya”. :)
Sepedaku
melaju cepat menembus jalan yang memang tak terlalu ramai. Karena bosan dengan
suasana kampus, jadi sejak ba’da ashar aku memilih untuk menghapal di taman Merjosari
yang kebetulan letaknya berhadap-hadapan dengan pasar Merjosari. Ku kayuh
sepedaku menuju kampus kembali karena sekarang sudah pukul 17.30 dan maghrib
disini adalah pukul 18.00 lain dengan kota kelahiran ku yaitu terkadang pukul
18.05 atau 18.10 bahkan pernah saat bulan Ramadhan, waktu maghribnya pukul
18.15 atau bahkan 18.20.
Ba’da
maghrib adalah waktu yang sakral bagi para peserta syauqy, tak perduli walaupun
lapar datang menghantam perut, dering hp yang bertalu-talu bahkan walaupun si
doi yang mengirim pesan pun kami tetap duduk bersandar dan melanjutkan hapalan
hingga isya datang karena khawatir hapalan yang kami hapal hilang yang
berakibat pada hancurnya hapalan saat setoran yang sudah di depan mata, ya
sejak ku ikuti acara ini rasanya setoran adalah saat-saat paling menegangkan,
karena jika setorannya tidak lancar, maka tidak boleh melanjutkan hapalan alias
mengulang dan jika hal itu terjadi rasanya sia-sia waktu yang terlewati jika
akhirnya besok harus menghapal ayat yang sama.
Adzan
isya berkumandang memecah keheningan, suara indah yang selalu menemani
perputaran bumi. masjid yang tadinya hanya diisi oleh peserta SYAUQY, kini
mulai ramai kembali dengan wajah-wajah yang tenang dan penuh kerinduan dengan
penciptanya, ya mereka inilah yang bukan termasuk orang munafik seperti yang di
sabdakan nabi bahwa “shalat yang paling
berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan subuh” ( HR Ahmad)
Saat
shalat isya telah ditegakkan dan saat ruh telah terisi, ku ambil kembali
mushafku dan kembali aku perlancar hapalanku, ya inilah saat yang di
tunggu-tinggu yaitu setoran hapalan. Sekarang aku kan menyetorkan 2 halaman dari
pertengahan juz 1. Setelah sedikit mengulang hapalan ku beranikan diri untuk
menghadap mustami’ dan Alhamdulillah hapalanku
lanjut, yah walaupun masih banyak kesalahan disana sini.
Beginilah
ku isi waktu liburanku, bertahan di tanah yang sangat asing untuk lebih mengenal
sang maha cinta, dengan sedikit mengorbankan rasa rindu tanah kelahiran, ku
lalui hari demi hari hingga genap 1 bulan. Kebersamaan yang terjalin selama
satu bulan kini meninggalkan rindu yang amat mendalam. Rasanya 1 bulan berlalu
begitu cepat, SYAUQY VII kini hanya tinggal dalam kenangan, kini tibalah
masanya untuk menapaki kehidupan yang sebenarnya, tidak akan ada lagi yang
mewajibkan untuk setoran siang dan malam, tak akan ada lagi suasana yang hening
untuk menghapal bersama. Semua akan terganti oleh hiruk pikuk suasana kuliah,
waktu setoran akan tergantikan oleh waktu mengerjakan makalah. Ya hanya mereka
yang benar-benar serius yang akan melanjutkan kebiasaan baiknya.
Hanya
sebuah lagu ciptaan salah satu peserta SYAUQY VII yang akan mengingatkan kita
akan moment-moment indah hari itu. SYAUQI VII memang telah berakhir, tapi bukan
berarti semangat dan cita-cita kita untuk membahagiakan orang tua dengan
menghapal kalam illahi juga berakhir. Ini bukan akhir, ini adalah awal dari
perjuangan yang sebenarnya. Selamat berjuang kawan, semoga kita senantasa di
beri keistiqamahan dan semoga kelak kita akan berkumpul kembali, bukan hanya di
dunia, tapi juga di jannahnya Allah SWT, aamiin
ya rabbal ‘alamin
Terimakasih
sudah membaca kisah liburanku, ini adalah lirik lagu ciptaan salah satu peserta
SYAUQY VII … J Tamat.
Syauqy
VII
(Menggapai Indahnya Cinta Bersama Al-Qur’an)
(Menggapai Indahnya Cinta Bersama Al-Qur’an)
Hey
kamu jangan pernah lupakan aku
Kita
pernah bersama disini
30
hari yang menggembirakan
Di
SYAHRUL QUR’ANY VII
Bangun
pagi shalat malam walaupn masih mengantuk
Tak
ada kata patah semangat
Pagi
hapalan, siang hapalan, malampun hapalan
Oh
SYAUQY, SYAUQY VII, SYAUQY VII
Menggapai
indahnya cinta bersama Al-Qur’an….
Kalau
pagi hapalan sambil berjalan-jalan
Kalau
malam hapalan sampai ketiduran
Apalagi
saat setoran
Kok
ayatnya membingungkan (bullet kabeh)
SYAUQY
VII pasti kan ku kenang
Sampai
tua nanti takkan terlupakan
Ku
kan tertawa sendiri
Mengenang
kisah kita ini
Oh
SYAUQY, SYAUQY VII, SYAUQY VII
Menggapai
indahnya cinta bersama Al-Qur’an….
SYAUQY
VII ...
previous part 2




.jpg)